DINAS PUPP, Tanjungpinang – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau melalui Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan (PUPP) resmi memulai proses lelang pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang.
Informasi mengenai tahapan lelang dapat dilihat di tautan:
https://www.datalpse.com/lelang/10149299000-pembangunan-museum-dan-monumen-bahasa-nasional-pulau-penyengat-kota-tanjungpinang.
Proyek strategis dengan nilai sekitar Rp101 miliar ini menjadi langkah besar pemerintah dalam memperkuat pelestarian sejarah bahasa, budaya Melayu, sekaligus mengangkat Pulau Penyengat sebagai pusat peradaban kebahasaan nasional.
Paket pekerjaan yang dilelang bertajuk Pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang dengan sumber pendanaan berasal dari APBD Provinsi Kepri Tahun Anggaran 2027.
Nilai pagu anggaran mencapai Rp100.999.895.745,49, dengan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) sebesar kurang lebih Rp101 miliar.
Proses pengadaan masuk dalam kategori pekerjaan konstruksi dan dijadwalkan berlangsung mulai 1 Juli hingga 7 Agustus 2026. Seluruh tahapan lelang dilaksanakan secara terbuka melalui sistem pengadaan pemerintah sesuai ketentuan yang berlaku.
Pemilihan Pulau Penyengat sebagai lokasi pembangunan bukan tanpa alasan. Pulau bersejarah ini merupakan salah satu pusat perkembangan kebudayaan Melayu dan memiliki kaitan erat dengan perjalanan bahasa Indonesia. Dari pulau inilah lahir karya monumental Raja Ali Haji, tokoh yang dikenal melalui penyusunan tata bahasa Melayu modern yang menjadi fondasi perkembangan bahasa Indonesia.
Kehadiran Museum dan Monumen Bahasa Nasional diharapkan menjadi simbol penghormatan terhadap perjalanan panjang bahasa Indonesia yang berakar dari bahasa Melayu. Selain itu, kawasan tersebut diproyeksikan menjadi pusat edukasi, penelitian, pelestarian budaya, sekaligus destinasi wisata sejarah yang mampu menarik akademisi, peneliti, pelajar hingga wisatawan dari berbagai daerah.
Kepala Dinas PUPP Provinsi Kepulauan Riau, Rodi Yantari menegaskan bahwa proses lelang dilaksanakan secara transparan dan akuntabel sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam menghadirkan pembangunan yang berkualitas.
Menurutnya, keterbukaan proses pengadaan menjadi kunci untuk mendapatkan penyedia jasa konstruksi yang memiliki kompetensi, pengalaman, dan kemampuan terbaik sehingga pembangunan museum dan monumen dapat terlaksana sesuai perencanaan.
"Pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional merupakan salah satu proyek strategis daerah yang mendukung pelestarian warisan budaya sekaligus memperkuat identitas Kepulauan Riau sebagai Bunda Tanah Melayu," kata Rodi di Tanjungpinang, Rabu (15/7/2026).
"Karena itu, kualitas pekerjaan menjadi prioritas utama agar bangunan yang dihasilkan memiliki nilai arsitektur, fungsi edukasi, serta daya tarik wisata yang tinggi," sambungnya.
Rodi menjelaskan, museum tersebut nantinya tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan koleksi sejarah, tetapi juga menjadi ruang publik yang mendokumentasikan perjalanan bahasa Melayu hingga berkembang menjadi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bangsa.
Sementara itu, monumen yang akan dibangun di kawasan tersebut diproyeksikan menjadi ikon baru Pulau Penyengat. Kehadirannya diharapkan semakin menegaskan posisi Kepulauan Riau sebagai daerah yang memiliki kontribusi penting dalam sejarah perkembangan bahasa nasional.
Lebih jauh, pemerintah optimistis proyek ini akan memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan pemberdayaan masyarakat sekitar. Meningkatnya kunjungan wisatawan ke Pulau Penyengat diyakini akan membuka peluang usaha baru sekaligus menggerakkan perekonomian lokal.
Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau juga mengharapkan seluruh peserta lelang mengikuti setiap tahapan secara profesional, transparan, dan menjunjung tinggi prinsip persaingan usaha yang sehat. Dengan dimulainya proses lelang, pembangunan fisik Museum dan Monumen Bahasa Nasional diharapkan dapat segera dimulai setelah penetapan pemenang, sehingga cita-cita menghadirkan ikon kebahasaan nasional di Pulau Penyengat dapat segera terwujud. (*)